Me Time
Setelah sekian lama tidak membuat tulisan lagi, tiba-tiba pagi ini saya secara spontan membuka wordpress dan ingin menulis sesuatu. Actually, saya ini memang random. Beberapa masa lalu, saya sempat ingin menutup blog ini dengan alasan: terlalu banyak menceritakan diri saya dan saya tidak ingin orang lain (mungkin interviewer kerja, stalker *cem punya aja*, dll) menjudge karakteristik saya hanya dengan membaca isi blog ini. Sampai pada pemikiran bahwa mungkin orang lain suatu saat bisa memanfaatkan kelemahan-kelemahan saya dari tulisan di blog ini. Berlebihan memang. Tapi niat ini saya batalkan, karena dari blog ini saya bisa melihat diri saya sedang berada pada state mana saat membaca tulisan-tulisan ini. Who cares what others really think anyway?
Saat ini sepertinya saya sedang berada seperti pada masa ‘setelah dinyatakan lulus dari SMA dan belum tau lanjut ke mana’. Cerita sedikit, dulu saya baru memantapkan fakultas yang akan dipilih saat SNMPTN mungkin baru 1 atau 2 bulan sebelum SNMPTN. Sebelumnya, setiap ditanya ingin lanjut ke mana, saya selalu bilang Matematika ITB, simply karena saya cuma bisa itu
Saya gak bisa hapal-menghapal semacam biologi, sejarah, dll. Fisika dan Kimia saya kadang bagus kadang jelek. Jadi, yang konsisten ya cuma di pelajaran matematika ini.
Sampai pada suatu saat, saya mendaftarkan diri saya di sebuah bimbingan belajar SNMPTN. Catatan lagi, sebelum UAN, saya juga berniat daftar di bimbel ini dan DITOLAK oleh pemilik bimbelnya. UAN dengan 6 mata pelajaran adalah yang pertama di angkatan saya, jadi wajar jika saya saat itu agak takut menghadapi UAN. Pemilik bimbel ini juga pengajar di sana. Saat daftar itu, intinya pemilik bimbel bilang: “Maneh rek naon daftar bimbel? rek nyoba urang (Kamu mau apa daftar bimbel, mau nguji saya?)”. Kenapa dia bisa bilang begini? Dulu, saat kelas 2 SMA, saya pernah 1x tatap muka untuk membahas soal olimpiade matematika dengan beliau. Tapi baru 1 hari, beliau menyatakan gak sanggup buat ngajar saya. Wew sedih, padahal UAN bukan cuma matematika doang toh. Saat daftar SNMPTN ini akhirnya saya diperbolehkan untuk bimbel di sana
Di bimbel ini, ada sesi konsultasi pemilihan fakultas. Saat pertama konsultasi, tiba-tiba saja saya kepikiran ‘Teknik Industri’ saat ditanya mau lanjut jurusan apa. Kenapa saya bisa tiba-tiba kepikiran Teknik Industri? Karena hari itu, saya baru lihat sebuah perusahaan material and it’s kind of messy there. Padahal gak ngerti apa-apa, kok ya bisa kepikiran begitu
. Pemilik bimbel ini malah menawarkan saya untuk memilih fakultas STEI. Saat itu, beliau menunjukkan sebuah buku yang dalemnya buanyak rumus, integral, diferensial. Sekilas saya baca, saya bisa follow penurunan-penurunan rumus di dalemnya (tanpa tau itu rumus apa). Katanya buku ini digunakan di fakultas STEI (saya gak inget pernah pake itu buku sampe saat ini, haha). Menurut saya saat itu inti dari konsultasi itu adalah, sepertinya beliau ingin nantang saya, bisa gak masuk STEI? OK, challenge accepted! Sejak saat itu saya bertekad masuk STEI
Kembali ke topiknya, saat ini saya juga merasakan hal yang sama. Saya bingung setelah lulus ini saya mau ke mana. Saat ini saya sedang menikmati dan ‘mengenal’ diri saya sendiri. Ya, saya sedang butuh banyak ‘me time’ saat ini. Saya terpikir mengejar Fullbright, kerja di X, kerja di Y, dll. Yang pasti saya butuh melanjutkan S2, karena menurut saya kerja itu ‘gak mikir’, sementara saya butuh ‘mikir’. Sengaja saya beri tanda kutip, sehinga sewaktu-waktu saya bisa menjelaskan dengan pemikiran saya mengenai ‘mikir’ relatif terhadap kondisi saat itu, haha
Bentuk ‘me time’ saya saat ini misalnya lari. Ya, lari physically, bukan lari dari kenyataan kalau kata teman-teman saya yang sering komentar. Dari saat tingkat 1 sebenarnya saya sudah rutin lari di Saraga, minimal 2 minggu sekali. Baru bulan November 2011 kemarin saya mendownload aplikasi GPS-based di HP untuk merekam rute lari dan waktunya. Dari aplikasi ini, saya melihat orang-orang yang rutin lari 3-4 kali/minggu dan jarak sekali larinya pun ~10KM. Saya coba-coba 5KM ternyata gak susah-susah amat, 10K, sampe paling jauh sekitar 18K (ini ke lembang loh nanjaak). Target tahun ini saya pengen mencoba 21K (Half-marathon) dan ikut race event Adidas King Of The Road bulan September nanti. Saya agak terobsesi juga untuk mengikuti New York City Marathon suatu saat simply karena Barney Stinson (HIMYM) bisa ikut marathon ini, Claire (Modern Family) juga ikut half-marathon ini. Ini baru tokoh fiktif, tahukah Anda kalau George W Bush atau Oprah juga pernah finish marathon dengan waktu yang mencengangkan? Kabarnya sih di USA sana, lari ini sudah menjadi kebiasaan sejak kecil. Sudah banyak klub-klub lari untuk anak kecil disana. Bahkan, disana sudah banyak ‘tempat bimbingan belajar’ untuk persiapan marathon. Sekalian saya ngejar Fullbright dan kuliah di sana, sekalian juga saya biasain rutin lari dari sekarang. Jadi, di sana sudah siap deh kaki saya buat diajak ikut event-event lari
Kenapa lari jadi ‘me time’? Karena lari 10K itu gak sebentar, ya sekitar 1 jam. Dalam waktu sejam ini, banyak sekali self-talk yang terjadi. Bagi saya, bahkan self-talk ini lebih banyak ketimbang 1 jam ngelamun. Mungkin karena dengan lari kita banyak melihat sesuatu, orang lain, ataupun aktivitas orang tersebut. Selain itu, setelah lari emosi saya stabil dan secara tidak sadar asupan makan saya lebih teratur. Jadi, lari ini memang bikin saya kecanduan rupanya.
Cukup sekian pos saya, sudah kepanjangan, dan saya sudah kelaparan ini. Kalau orang bilang saya galau, saya jelas bukan galau. Saya hanya sedang butuh lebih banyak me time
Kilas Balik Hidup Masa Kecil
Baru saja saya melakukan hal yang dulu sering saya lakukan saat kecil. Mungkin, kebiasaan ini terdengar agak *forever alone*, hahaha. Kebiasaan ini adalah… Ngelamun di sore hari, ngeliat aktivitas orang-orang, atau sekedar melamuni langit. Hal yang paling penting adalah, entah sudah berapa lama aktivitas yang menyenangkan ini tidak dilakukan. Dan sekarang, semua memori-memori saat kecil tiba-tiba begitu dekat. Daripada terbuang terlupakan, lebih baik saya menuliskannya bukan? </p?
Saat ini saya sedang berada di Jakarta, tepatnya Cikini, Jakarta Pusat. Di sini saya ngekos di tempat Kos 3 lantai, dimana 3 hari yang lalu baru aja ada maling. Menurut saya sih tempat kos saya cukup nyaman. Keluar dari pintu ada pelataran. Dari sini, saya bisa melihat Monas di sebelah kanan saya, dan gedung-gedung sok penting di sebelah kiri.
Saya sedang melaksanakan Kerja Praktek. Seharusnya menurut administrasi, saya sekarang berada di Papua, tapi secara teknis ya beginilah, saya terdampar di Kota Padat, Sumpek, Ambisius, Antagonis nan Anti Sosialis. Oh, ada cerita di balik cursing yang saya baru katakan. Baru saja sekitar 3 hari yang lalu, kartu ATM saya tertelan di mesin ATM. Akhirnya, saya laporan lah ke Bank terdekat di sini. Liwat saja cerita hilangnya ATM ini (ini mungkin bisa jadi satu postingan), langsung ke bagian saya mengambil kartu ATM, saat setelah selesai saya mengurus kartu yang baru ini, si Mbak Customer Service menawari suatu produk dari Bank tersebut. Entah kenapa, si Mbak CS tersebut tertarik untuk mengulik info saya (charming face factor? :3), kira-kira ada bagian dari pembicaraan tersebut yang seperti ini :
Mbak CS : “Mas tinggalnya dimana?”
Saya : *Dalam pikiran saya bingung mau jawab apa, akhirnya saya jawab -> * “Saya saat ini lagi PKL di sini, saya masih kuliah di Bandung, tempat tinggal saya di Cianjur”
Mbak CS : *Dengan wajah tertarik melanjutkan pembicaraan* “Oh, nanti mau berkarir di Jakarta ya?”
Saya : *Dengan cekat menjawab* “Hoo, gak akan Mbak kalo bisa”
Mbak CS : *Dengan senyum menggoda* “Oh, saya ngerti kok, pacar saya juga orang Bandung, katanya menurut dia, orang Jakarta gak ramah, ambisius, x, y, z. *Variabel diganti dengan beberapa cursing yang telah saya sebutkan.
Pembicaraan si Mbak mengulik saya pun berlanjut, sepertinya dia lagi flirting tuh (pede).
Oke, ini udah kepanjangan cerita tentang ATMnya
. Balik lagi ke cerita melamun, banyak hal di masa kecil yang saya ingat *kebanyakan SD dan SMP*, saya list saja :
1. Saya pernah melempar kepala anak kecil dari lantai 2 di rumah saya dulu di Depok. Ya, saya masih ingat, saat itu adalah bulan puasa. Ibu saya sedang mengaji, dan ada anak kecil lain yang iseng melempar garasi rumah saya dengan batu-batu. Karena saya dan beberapa kakak saya gak mau ibu kami terganggu, akhirnya terjadilah lempar-lemparan batu. Anak kecil itu akhirnya lari, dan saya tau kalo rumahnya di belakang rumah. Sehingga saya lari ke lantai 2, dan ya, anak itu masih jalan, dan saya lemparlah sebuah batu kecil ke kepalanya. Beberapa saat saya senang karena batu tersebut kena, beberapa saat kemudian saya panik, karena saat dia memegang kepalanya, darah di tangannya banyak. Sambil nangis, anak itu berteriak-teriak : “Gua bilangin bapak gua loh”. Saya panik dan kemudian sembunyi di balik pintu hampir selama 2 jam (dimana ada colokan listrik banyak, untung gak kesetrum). Di balik pintu itu, saya mendengar ibu saya sedang beradu mulut dengan ibu anak tersebut, dan akhirnya saya dengar kalau ibu saya akhirnya membawa anak itu ke rumah sakit. Setelah ibu saya pulang, habislah saya. Rumah di Depok ini sudah saya tinggal semenjak kelas 1 SD. Terakhir kali saat SMA, saya pernah iseng ngelewat rumah tersebut, dan saya sudah tidak familiar lagi dengan keadaannya. Tapi, satu hal yang masih familiar adalah warung di depan rumah tersebut, dimana saat dulu kecil saya sering ngambil makanan seenaknya, dan diakhir bulan tiba-tiba orangtua saya kaget karena ada tagihan dari yang punya warung :p. But, trust me, it’s so worth it mengunjungi tempat-tempat yang dulu pernah kita singgahi, ada suatu perasaan yang tidak bisa disebutkan dengan kata-kata saat melihat tempat tersebut. Mungkin suatu saat, jika ada waktu, saya ingin tur mengunjungi tempat-tempat yang pernah saya singgahi selama hidup.
Saya sekolah di 4 SD, dan menurut saya yang paling berkesan adalah saat saya sekolah di SDN Perumnas 2 Cianjur. Di SD ini saya sekolah sekitar 2,5 tahun (lebih lama dari SD lain). Beberapa memori yang teringat adalah :
2. Saat pertama kali masuk di SD ini, saya diperkenalkan oleh guru, namanya Pak Dadan. Hari pertama adalah hari dibully-bully oleh anak lain, tentu saja saya sudah biasa dengan hal ini, karena saya tentu saja sudah mengalami 2 kali dibully sebelumnya. Dari depan, saya menghitung anak laki-laki di kelas baru saya tersebut, 1.. 2.. 3.. 4.. 5. Ya, cuma ada 5 anak laki-laki, menyedihkan sekali bukan. Di akhir jam sekolah tersebut, saya pun mulai dibully oleh kelima anak laki-laki. Dan lucunya adalah, satu orang wanita ngebela saya, bisa dibilang wanita ini jeger (bahasa Indonesianya apa?) wanita. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saya pacaran dengan wanita ini dan saya gak inget kapan berakhirnya. Haha, lucu sekali kalo diingat.
3. Karena laki-laki di SD ini cuma berenam, kami selalu jadi kaum marginal : main bola dengan adik kelas kalah (jelas cuma berenam), main bola dengan SD depan (SDN Perumnas 1) kalah, semua hal yang berbau kuantitas selalu kalah. Teman baik saya adalah Sukma. Sampai SMP kami sering sekali main bareng, sampai saat SMA, karena beda SMA tiba-tiba gak pernah main lagi. Saya ringkas saja, di SD ini kegiatan tiap harinya adalah 6 orang cowok main kejar-kejaran dan gak ada jongkoknya (jadi bisa ampe ke perumahan kejar-kejarannya
) atau main bola di lapangan samping.
4. Kalo soal lomba akademik, kelas kami mungkin jagoannya. Di kelas itu ada 1 orang yang menurut kami saat itu adalah ‘untouchable girl’. Namanya Faza Budiarti (takut-takut dia baca, sapa dulu, hai Faza!
). Dia sangat dewi kalo masalah akademik, gak pernah lepas ranking 1, dan jadi siswa teladan sampe kabupaten. Dulu Pak Dadan (wali kelas 5), menunjuk dia (jelas, list nomor 1), saya, dan sukma. Namun, karena sukma sakit, digantikanlah oleh Evi. Tanpa belajar sedikit pun, kita bisa bawa piala juara 1 lomba cerdas cermat sekecamatan. Rasanya ini adalah piala pertama yang pernah saya beri untuk sekolah.
5. Di SD ini, saya juga pernah jadi wakil putra untuk siswa teladan. Saya masih ingat sekali, saat itu, H-1, saya ditunjuk oleh guru saya, dan saya disuruh buat peta buta untuk kerajinannya. Akhirnya, sebelum pulang ke rumah, saya beli papan dan cat. Sampai di rumah, ternyata orangtua saya pergi ke Jakarta. Oke, saya sendirian di rumah. Sore hari, bingung gimana bikin peta buta, akhirnya saya main layangan di depan
. Dan barulah sampai malem hari saya mulai panik gimana bikin peta buta. Di dapur, saya menemukan sesuatu, dan itu adalah kacang hijau. Dengan gobloknya, saya menyangka ide ini bagus banget, ya, peta buta dari kacang hijau. Ok, dengan semangatnya saya gambar peta Indonesia di papan, dan mulai memasangi kacang-kacang hijau tersebut di papan tersebut. Oke, peta buta sudah ditempeli kacang hijau, besok mungkin di sekolah masih bisa dicat. Malam itupun tidur dengan indah sendirian di rumah dengan peta buta kacang hijau di dekapan (kalimat ini lebay). Keesokan paginya, dengan tak lupa menatap sang mentari, wajah penuh harap pun lenyap seketika saat melihat jam menunjukkan pukul 06.xx (xx-nya lupa). Tanpa sempet bikin sarapan pagi, langsung mandi, bikin teh manis, dan lari-lari ke sekolah (dari rumah ke SD mungkin sekitar 1.5-2 KM). Sampai di sekolah, Pak Dadan ini kaget dengan peta buta yang saya buat. Padahal, saya kira, beliau bakal bilang kalo itu adalah ide impressive dan brilan, hahaha. Dengan tanpa dosanya, beliau mencabuti kacang-kacang hijau peta buta tersebut dan mulai memasanginya dengan bubur kertas punyanya si Faza. Saya disuruh siap-siap saja untuk ganti baju olahraga karena sesi pertama adalah olahraga. Oke, pagi itu saya belum makan, saya abis lari-lari, dan langsung sesi olahraga? Begitulah hidup nak, berat jika dipikirkan, namun ternyata berat juga kalo dilaksanakan
. Sesi olahraga adalah, lari 3 keliling lapangan bola, lompat jarak jauh, dan loncat-loncatan nepok dinding (yang terakhir ini maksudnya tinggi-tinggian loncat). Berhubung tiap hari saya kejer-kejeran lari cepet, saya nganggep tes lari 3 keliling ini cetek banget. Dan tiap bulan pun sering dites lari 1 keliling, dimana rekor saya paling cepet adalah 1 menit 3 detik (ya sekitar segitu lah). Ternyata di lapangan membuktikan lain, di lapangan dengan rute terbalik 2 orang diadu, dan saya kalah. Mungkin karena faktor belum makan ini *masih gak mau kalah. Intinya, tes olahraga gagal, begitu pula tes-tes lainnya (akademik, kerajinan, seni, dan wawancara). Jadi siswa teladan kecamatan pun fail. Hahaha. Hal yang berkesan lainnya adalah, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan anak yang juga sama-sama cadel XD. Dia adalah Adi Susanto, dimana dia saat SMA eksis sekali menjadi ketua OSIS SMAN 1 Cianjur. Di SD ini, saya juga pernah ikut Porseni Tenis Meja tunggal putra, dan as expected, gagal juga.
Itulah beberapa memori di SD yang saya ingat disamping memori-memori seperti : Jalan-jalan ke Dago Pakar, ke ciwidey (dan saya sangat panik sekali sampe dibully-bully naek perahunya). That was perfect sweet memory. Dengan 23 anak, 17 wanita dan hanya 6 pria, di SD tersebut rasanya membuat saya ingin kembali bersenang-senang di SD tersebut.
6. Masuk ke SMP saya menjadi Mr. Perfect. Entah kenapa saya bisa jadi super perfect-and-no-tolerance kaya gitu. Hal kecil seperti merilekskan kaki saat upacara hari senin pun adalah hal yang tabu bagi saya. Soal akademik, di kelas saya gak pernah lepas dari rank 1, juara umum-pun, gak pernah lepas dari 1, 2, atau 3. Entah berapa piala yang sudah saya sumbangkan untuk sekolah. Hampir semua lomba akademik diwakili oleh Saya, atau/dan Alwi, atau/dan Faza. Bahkan, kelas 1 pun, saya dan alwi ditunjuk untuk masuk jadi OSIS dimana anak-anak lain harus capek-capek seleksi. Saya masih ingat jabatan kita berdua saat itu adalah : Pembantu Umum XD.
Di SMP, 5 hal yang paling keinget adalah : Bu Ning, Lomba, OSIS, Marching Band, Paskibra.
7. Bu Ning adalah orang yang menunjuk saya dan alwi masuk OSIS. Beliau sudah seperti ibu kami saat itu. Saya dan alwi kalo dibilang mungkin anak emasnya beliau. Beliau ini pembimbing OSIS dan Marching Band. Beliau juga yang nganter kami kemana-mana kalo kami lomba (baik lomba akademik, kegiatan marching band, atau lomba paskibra). Semua hal rasanya diberikan oleh beliau agar kami bisa maksimal di setiap lomba mulai dari hal kecil, misalnya, beliau suka maksa kami makan coklat sebelum lomba. Katanya sih supaya lebih konsentrasi. Saya masih ingat, kalo anak lain mungkin pulang sekolah sekitar jam 1. Saya dan alwi mungkin jam 5 baru pulang. Dan bisa ditebak, kita mungkin ada di meja Bu Ning, atau di perpustakaan. Ya, bahkan saya dan alwi dikasi kunci perpustakaan saat kelas 3 (udah dibalikkin belom ya?haha). Dan kalau kita kalah lomba, beliau masih bisa terima hal tersebut. Intinya, beliau super lah di SMP tersebut. Kalau gak ada dia, mungkin SMP tersebut gak ada bagus-bagusnya. Saya sendiri merasa banyak di-didik oleh beliau. Ah, sudah lama sekali rasanya saya tidak berjumpa dengan Bu Ning. Terima kasih untuk jasa-jasa beliau untuk saya selama ini.
8. Lomba dilewat aja, ntar disangka freak lagi XD. Langsung ke Paskibra, lebih tepatnya pengibar bendera sih. Saat kelas 1 dan 2, sebenarnya saya gak masuk ekskul Paskibra. Jadi, di SMP itu petugas upacara adalah bergilir setiap kelas. Namun, kalo gak siap, biasanya digabung ma OSIS. Dan biasanya, pengibar benderanya gak siap, jadilah OSIS yang jadi pengibar bendera. Biasanya untuk upacara hari senin, cuma pake struktur 6 orang. Dan saya selalu jadi pengulur, partner 2 orang lagi adalah alwi, atau angga amora. Ya, jadi pengulur itu nikmat rasanya. Saat akan mengibarkan, ujung tangan kanan memegang lipatan atas, ujung tangan kiri memegang lipatan bawah, mundur 3 langkah ke belakang dengan kaki kiri terlebih dahulu, bentangkan bendera, muka dipalingkan ke kiri, dan katakan : “Bendera Siap!”. Mungkin kalo saya terdengar: “Bendela siap” ato “Bendewa siap”. Saat lagu Indonesia Raya mulai dinyanyikan pun kita masih bisa bergaya dengan cara melepas bendera dengan gaya penuh lebay melepaskan bendera dengan sok enggan dan wajah dramatis dipalingkan ke atas. Argh, saya kangen momen itu. Yang paling penting adalah, kita harus percaya ma orang yang ditengah ini. Orang yang ditengah ini (alwi), jangan ampe salah ngelipet bendera, atopun posisi bendera saat ngasih ke pengulur. Alhasil, karena kepakaran jadi pengibar bendera ini dan kelas 3 banyak lomba paskibra, saya disuruh masuk Paskibra oleh Bu Ning. Seru banget karena lombanya pengibarannya pake gaya-gaya dulu dan dengan jumlah orang yang banyak. 2 kalo lomba dan gagal dua-duanya. Pada saat lomba pertama, saya, alwi dan angga ngiseng nelpon danlap cewek tim dari SMP lain. Ini ampir tiap hari selama beberapa minggu dan pake nomor sekolah, haha, begitu bodohnya.
9. Momen yang paling berkesan di OSIS adalah malam pelantikan. Ada sandiwara yang dibuat-buat para guru, jurit malam, dan pelantikannya. Dengan remang-remang kayu bakar dan tenda-tenda. Dan besok paginya, hari Senin adalah pelantikan di depan siswa lain dengan pengalungan selendang OSIS. Wah, berkesan sekali. 2 kali saya mengalami hal ini dan tetap berkesan dua-duanya. Di OSIS, taun pertama saya jadi Pembantu Umum XD, taun kedua jadi calon ketua umum, dan kalah voting jadi Sekretaris Umum. Saya masih inget, saat pidato visi misi dan sejenisnya itu di depan, tiba-tiba seekor burung melepaskan kewajiban paginya tepat di bahu kanan saya. Pertanda kalah voting?
10. Marching Band. Pertama di marching band saya pegang belira (nulisnya bener gak?), karena gak bisa baca not-not-an, dan cuma ngandelin ngapalin angka yang tertulis di belira itu, saya pegang trio. Sempet latian trompet selama 1 minggu dan udah bisa do re mi fa so la si do, do si la sol fa mi re do. Terlalu cepet puas, akhirnya keluar latian trompet dan tetep pegang trio, haha. Gak sih, sebenernya saya sadar kalo i’m good at percussion, jadinya ampe 6 taun sama SMA pegang perkusi mulu. Kegiatan marching band ini cukup capek, rutin senin kamis, kalo ada festival maka mungkin bisa tiap hari latian. Paling males kalo pawai, kalo festival dan displaynya sih asik banget. Abis pawai, kaki lecet dan tidur bisa 12 jam kayanya. Yang paling jago adalah pelatihnya. Saya suka sekali bagaimana mereka mengolah tim perkusi sehingga di tiap lagu pasti ada selingan perkusi yang keren-keren. Bangga pernah jadi bagian marching band SMP ini. Kalo lomba, sering banget menang, terutama untuk kategori Displaynya.
Wow, postingan yang cukup panjang. Saya pikir, saat saya menulis tadi, tiba-tiba banyak sekali memori yang ke-flash lagi dan saya sadar kalo jaman anak SD sekarang beda dengan jaman anak SD dulu. Mungkin kalo nanti saya nyerita jaman SD saya dulu, anak saya akan gak ngerti sama seperti saya diceritain oleh orangtua saya dengan cerita buku asbaknya XD. Daripada tambah panjang dan gak jelas, mending dicukupkan aja. Ohiya, Saya baru aja nonton Sucker Punch, adegannya random parah, tapi ada banyak pesan disitu, dan quote paling ngena bagi saya sekaligus penutup postingan ini adalah :
“And finally. This question. The mystery of whose story it will be, of who draws the curtain. Who is it that chooses our steps in a dance? Who drives us mad, flashes us with whips, crowns us with victory when we survive the impossible? Who is it that tells all these things?”
3 Film Yang Membuat Saya Menangis
Setelah tadi pagi nonton film baru yang membuat saya menangis (gak ada larangan laki-laki nangis kan?
), saya mau share nih 3 film yang saya ingat pernah membuat saya menangis. Film-film itu yaitu :
1. Tokyo Tower
Film ini saya tonton tepat sekitar 14 bulan yang lalu. Ada 11 episode dari film ini. Dan di setiap episode, saya nangis darah. Gak nangis darah sih
, tapi emang bener2 nangis keluar air mata gak berhenti sampe efeknya berminggu-minggu. Bahkan, saat wawancara dulu mau masuk Lab IRK, saya sempet nyeritain film ini.
Kenapa saya sebegitu nangisnya nonton film ini? Jadi film ini, bisa dibilang menceritakan kehidupan saya. Semua hal hampir mirip. Sinopsisnya bisa baca aja di sini. Mulai dari kehidupan masa kecil saya, bagaimana hubungan orangtua, keinginan si Nakagawa kuliah ke Tokyo, sampai pada aspek kesehatan Ibu saya. Film ini emang diambil dari kisah nyata, tapi bukan dari saya
, tapi dari si Lily Franky.
Kalo si Nakagawa kekeuh pengen ke Tokyo, saya kekeuh dulu pengen ke ITB (walopun orangtua lebih milih STAN). Kalo si Nakagawa begitu khawatirnya saat Ibunya terkena kanker, saya juga. Saat SMA, bahkan saya shock saat beberapa kali di sekolah dipanggil ke Ruang BP dan diberitahu bahwa Ibu saya masuk Rumah Sakit.
Oke, saya gak mau keingetan film ini lagi. Kalo disuruh nonton film ini, saya berpikir puluhan kali kalo emang lagi gak mau nangis.
2. A Beautiful Mind
Film ini saya tonton pertama kali sekitar 2 tahun yang lalu. Film ini menceritakan kisah John Nash, tokoh yang terkenal mendewa di bidang matematika (Game Theory lebih banyak kalo gak salah) dan ekonomi. Sinopsisnya baca aja di sini. Kemarin saat kuliah terakhir kelas Kriptografi, dosen saya (Pak Rinaldi) memutar film ini di kelas. Saya udah 3 kali nonton film ini, dan saat kuliah Kriptografi itu, sebelum scene John Nash dikasih pulpen (tanda penghargaan) dari orang-orang di ruangan dan scene akhir (saat John Nash pidato), saya keluar dari kelas. Takut nangis di kelas
. Apa jadinya kalo ketauan nangis di kelas. Hahaha. Beda dengan nangisnya film Tokyo Tower, saya nangis film ini karena terharu.
3. Morning Glory
Nah, ini film baru saya tonton tadi pagi. Biasanya kalo saya nonton film itu, kalo gak dapet rekomendasi dari temen, maka saya skip-skip dulu liat sebagian scene filmnya. Nah saat malam dua hari yang lalu saya tonton 15 menit pertama, saya langsung ngeliat film ini bagus. Jadi saya tonton deh ini film, karena awalnya saya liat 15 menit pertama itu ceritanya bisa mengembalikan semangat kerja setelah down beberapa hari ini. Sinopsisnya bisa baca di sini. Saya gak begitu nangis kaya 2 film sebelumnya sih, tapi saya nangis terharu pas Becky lari-lari balik dari interview Today Show. Film ini juga bisa membangkitkan semangat kerja Anda.
Itu dia ketiga film yang inspirasional bagi saya dan kayanya gak akan dihapus dari daftar film di harddisk nih.
Google Tak Selamanya Membantu
Minggu ini adalah minggu UAS bagi saya, hari ini adalah UAS Progin (singkatan dari Pemrograman Internet). Dengan memanfaatkan belajar satu hari, cukup puas juga sih dengan kerjaan tadi, walaupun sebenernya banyak gak teliti di beberapa bagian. Sebenernya, semester ini untuk menghadapi UAS banyak waktu yang kosong sih, tapi waktunya ya buat periksa PR dan tugas-tugas asisten lainnya, dibanding dengan semester-semester sebelumnya. Oh iya, sekalian cerita, waktu UAS Semester 4 dulu, menurut saya adalah UAS yang terberat. Pernah ada satu deadline tubes OOP yang dikumpulkan pada pagi hari UAS, dan kelompok saya baru selesai (sepertinya kata yang tepat adalah ‘diselesaikan’) baru jam 3 pagi. Dari kampus pulang jam 3, nyampe kosan nunggu subuh sambil baca slide, terus bangun jam 7, ngumpulin tubes ke kampus, pulang ke kosan lagi terus tidur dan bangun terkaget-kaget udah jam 11. Langsung mandi dan berangkat solat jum’at, abis itu langsung berangkat UAS. Dan pas UAS, karena gak belajar dan ngantuk luar biasa, yasudah matilah di ruang ujian itu
.
Balik lagi ke UAS Progin, menurut saya, tipe UAS dari Progin ini cukup unik, terdapat 29 soal Pilihan Ganda dan 1 soal esai. Untuk soal pilihan ganda terdiri dari beberapa pilihan jawabn (4-8). Jadi penilaian tidak dilakukan berdasarkan 1 soal, tapi berdasarkan 1 pilihan jawaban untuk tiap nomor. Dalam satu nomor bisa terdiri dari beberapa jawaban benar, beberapa jawaban salah, atau beberapa jawaban yang tidak benar ataupun tidak salah (ini kayanya gak mungkin sih). 1 pilihan jawaban benar diberi nilai 1, 1 pilihan jawaban salah diberi nilai -1/4, dan pilihan jawaban yang kosong diberi nilai 0. Untuk soal pilhan ganda sendiri, saya isi semua, setelah hitung-hitung dulu rentang nilai aman tentunya.
Lalu apa hubungannya dengan judul post ini? Nah, hubungannya itu ada di soal esai. Soal esai itu kira-kira seperti ini :
Buatlah program client dalam bahasa C, dimana meminta masukan IP Proxy, Port Proxy, URL, dimana akan ditampilkan teks dari URL dengan melewati Proxy (tanpa autentikasi) yang diberikan. Misal kalo URLnya itu www.facebook.com/index.php, maka akan ditampilkan isi dari file index.php tersebut. Ya intinya begitu laaah.
Soal ini sebenernya cukup gampang, kalo tahu sintaks-sintaks socket programming dalam C. Selama ini tugas-tugas kuliah seperti ini yang banyak berhubungan dengan sintaks-sintaks yang tidak cukup famililiar, saya banyak melakukan googling. Pas tadi dihadapkan pada soal esai, sempet kaget juga. Dan terakhir kali ngoding socket programming pake C adalah kuliah satu semester lalu di mata kuliah Jaringan Komputer. Akibatnya, tadi saya hanya menuliskan jawaban berupa langkah-langkah konsep dasarnya
. Tak apalah, yang penting udah cukup puas ma kerjaan tadi, apalagi setelah tahu kalo yang lain juga pada ga bisa
(ini namanya kesenangan saat orang lain punya nasib buruk yang sama, hahaha).
Pelajaran yang bisa diambil dari sini adalah, biasakan untuk mengenali dan menghapal sintaks
, dan kalo buat latihan usahakan jangan gunakan tools NetBeans, dan sejenisnya. Gunakanlah Notepad++. Saya jadi inget, dulu teman saya ada yang ngerjain tubes OOP, full pake Notepad++. Bagus juga sebenernya ini, buat pembiasaan gak pake ctrl+[space]
. Dan bantuan google pun sebenernya membuat penyelesaian dengan cara yang instan. Oh iya, pas baca slide, karena saya beberapa kali gak masuk kuliah Progin ini, saya baru menyadari bahwa untuk mengerjakan tubes-tubes itu dibekali konsepnya di kuliah juga. Selama ini, buat ngerjain tubes, konsepnya saya cari-cari di google padahal. Pelajaran kedua lagi adalah, jangan pernah gak masuk kuliah Progin, walaupun jumlah kehadiran tidak dihitung.
Saya jadi ingat lagi cerita dari dosen, mungkin nanti di sekolah dasar, anak-anak saat ditanya oleh gurunya : “Berapa 1+1?”, mereka menelepon ke technical support atau googling dulu karena gak apal
. Intinya adalah, berhubung teknologi udah wah, bukan berarti kita selamanya bergantung pada teknologi tersebut. Mungkin saja, ada suatu kondisi ekstrem dimana kita ditempatkan pada situasi ekstrem. Misalnya nih kita tersesat di hutan, GPS gak jalan, handphone mati, gak ada sinyal buat modem
, kalo kita bisa baca rasi bintang misalnya, membantu dan keren juga kan?
Besok adalah UAS Intelegensia Buatan, dan saya baru mau belajar



